Dampak Miris di Balik Kesan Teriris

Ada dua alasan mengapa saya menulis tanggapan dari narasi berjudul Surat Cinta Bu Faida. Pertama, tulisan itu ditujukan kepada warga Jember. Maka, sebagai warga Jember, saya merasa punya hak untuk menanggapinya. Jadi, saya menanggapi narasi tersebut bukan dalam kapasitas saya sebagai jurnalis. Tapi murni sebagai warga Jember, bapak dari 4 orang anak.

Alasan kedua saya menanggapi narasi itu, karena saya melihat narasi yang dibangun berpotensi memiliki dampak buruk luar biasa di masyarakat, terutama dalam berbangsa dan bernegara. Selain bisa menimbulkan perpecahan dan saling curiga, narasi itu juga berpotensi menggiring opini masyarakat agar tidak percaya lagi dengan sistem pemerintahan di negeri ini.

Baiklah, akan saya uraikan lebih detail bagaiamana narasi itu bisa berdampak serius. Jika kita perhatikan, pesan yang ingin disampaikan di narasi itu adalah, ada kelompok yang tak ingin Faida melakukan perubahan. Menurut penulis di narasi itu, kelompok ini tak ingin ada perubahan karena takut kehilangan kenikmatan dan keuntungan. 


Namun penulis di narasi itu tak menerangkan lebih detail siapa kelompok yang disebut tak ingin ada perubahan itu. Artinya, penulis sengaja membiarkan masyarakat untuk menganalisa sendiri, siapa kelompok itu, tentu saja berdasarkan fakta yang terjadi selama Faida menjadi bupati.

Jika dianalisa dari fakta yang terjadi selama Faida memimpin, maka di benak masyarakat akan muncul beberapa lembaga yang masuk dalam kategori yang disebut oleh penulis narasi itu sebagai kelompok penghambat perubahan. Lalu siapakah mereka?

Yang pertama adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI. Mengapa? Karena BPK RI telah memberikan opini Disclaimer terhadap tata kelola keuangan pemkab Jember tahun 2019.

Kelompok berikutnya adalah DPRD Jember. Mengapa? Karena DPRD Jember telah memakzulkan Faida.

Lalu kelompok yang bisa masuk kategori penghambat perubahan yakni Mendagri. Alasannya adalah Mendagri tidak menyetujui ratusan pejabat yang dimutasi Faida.

Kemudian ada Gubernur Jawa Timur. Mengapa? Karena Gubernur telah menjatuhkan sanksi ke Faida akibat APBD Jember 2020 terlambat dibahas.

Dan mungkin yang bisa masuk lagi adalah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. Kenapa....? Karena PTUN membatalkan keputusan Faida mengangkat seorang kepala desa di Kecamatan Pakusari.

Deretan kelompok atau lembaga itulah yang akan muncul di benak masyarakat akibat tidak detailnya narasi yang dibangun dalam tulisan Surat Cinta Bu Faida. Dan ini akan menimbulkan dampak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dampak jangka pendeknya adalah berkaitan dengan Pilkada. Warga Jember pasti tahu Faida saat ini maju dalam kontestasi Pilkada Jember 2020. Sehingga penulis narasi berharap Faida akan mendapat simpati masyarakat. Penulis menarasikan Faida didholimi akibat ingin melakukan perubahan. Faida seolah dikuyo-kuyo banyak kelompok. Targetnya, Faida mendapat simpati dan meraih suara sangat besar mengalahkan pesaingnya.

Namun yang jauh lebih membahayakan dari narasi Surat Cinta Bu Faida adalah dampak jangka panjangnya. Mengapa? Karena hal itu akan menimbulkan opini di masyadakat bahwa Faida telah didholimi oleh sistem pemerintahan di negeri ini. Sosok Faida yang digambarkan ingin melakukan perubahan, malah hendak dihabisi oleh pemegang tampuk sistem pemerintahan. Ujung-ujungnya, masyarakat bisa tidak percaya dengan sistem pemerintahan yang ada.

Ketika kondisi itu terjadi, maka akan mudah disusupi oleh golongan tertentu yang menginginkan agar ada perubahan sistem pemerintahan di negeri ini. Sosok Faida akan dijadikan martir demi tujuan perombakan sistem yang sudah terbangun. Sungguh sangat membahayakan bukan....?

Sebagai warga Jember, tentu saya tak ingin Jember menjadi laboratorium bagi orang-orang yang hendak membangun sistem baru di negeri ini. Apalagi jika sistem yang hendak dibangun itu sangat bertentangan dengan Pancasila yang selama ini kita sepakati menjadi dasar negara.

Hingga artikel ini saya buat, saya masih meyakini narasi berjudul Surat Cinta Bu Faida bukanlah tulisan Bu Faida sendiri. Meski dalam narasi itu menggunakan kata "Aku".

Saya percaya, Bu Faida tak akan tega melihat rakyat Jember saling curiga. Saya percaya, Bu Faida tak ingin Jember menjadi embrio munculnya paham sistem pemerintahan yang bertentangan dengan Pancasila.

Apalagi hanya sekadar untuk kepentingan Pilkada. Saya yakin Bu Faida tak perlu mengensankan dirinya menjadi sosok yang teriris, dengan membuat narasi yang berdampak miris untuk jangka panjang bagi negeri ini. Semoga.


*Taman Gading, 19 September 2020

"Sampek melungker tetep wong Jember"

Yakub Mulyono

Apa Reaksi Anda?