Hitam-Putih Jember SAE 2021

Hitam, seperti halnya putih, dalam  makna yang sebenarnya adalah warna. Tetapi, ketika keduanya dimajaskan (dipertemukan) ke dalam ungkapan hitam-putih, maknanya akan berubah. Dalam kehidupan sehari-hari hitam-putih biasanya digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan baik-buruk. Dalam perspektif ini hitam menyimbolkan kegelapan dan kejahatan, sedang putih menyimbolkan kebaikan, kemurnian dan moralitas. 

Hitam-putih juga acap kali digunakan sebagai metafora yang mengabstraksikan kejelasan atau kepastian (hukum). Seseorang yang dalam transaksi (sosial)  menghendaki kejelasan dan kepastian (hukum) misalnya, dia  akan mengatakan, “harus ada hitam di atas putih agar kelak di kemudian hari tidak timbul persoalan”. 

Apapun yang diabstraksikan, metafora hitam-putih cenderung merujuk pada perbedaan (keadaan) yang kontras. Sebegitu rupa sehingga putih akan terlihat ketika bersanding dan disandingkan dengan hitam. Kebaikan akan terlihat ketika bersanding dan disandingkan dengan keburukan atau kejahatan. Begitu seterusnya. 

Uraian di atas dimaksudkan untuk mengantar pada penjelasan bahwa dalam hal tertentu  hitam ternyata fungsional. Tanpa hitam, putih tidak terlihat. Jika hitam mewakili karut marut, kekusutan, kekacauan, kekisruhan atau instabilitas, maka  tidak ada success story (kisah sukses) tanpa karut marut, kekusutan, kekacauan, kekisruhan atau instabilitas. Semakin karut-marut, kusut, kacau dan kisruh semakin monumental dan fenomenal  pula kisah sukses yang tercatat ketika seseorang berhasil mengurai kekusutan dan kekacauan itu. Sukses seseorang akan tercatat sebagai kisah monumental dan fenomenal tatkala orang bersangkutan berhasil mengubah keadaan dari kegelapan ( hitam pekat)   menuju cahaya terang (putih cemerlang). 

Kisah sukses Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, adalah contoh paling baik. Keberhasilannya tercatat sebagai kisah sukses yang monumental dan fenomenal setelah Bupati Abdullah Azwar Anas dengan kecerdasannya berhasil mengubah dan  membawa Banyuwangi yang tadinya tercitra sebagai kota santet menjadi Banyuwangi dengan masyarakat yang modern dan rasional. Ceritanya bisa saja berbeda andai Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas hadir ketika Banyuwangi sejak awal sudah tercitra sebagai kota modern dengan masyarakat yang rasional dan terbuka. 

Akhirnya, biarlah Jember SAE 2021 hadir di tengah kegelapan (hitam). Biarlah Jember SAE 2021 hadir di tengah citra miring  Jember dengan segenap atribusinya.   Sebab, gelap gulita itu akan segera terang benderang oleh cahaya (putih) yang terpancar dan dipancarkan Jember SAE 2021. Sebab, dengan begitu, Jember SAE 2021 yang digagas kaum istimewa ( noblesse oblige) akan tercatat sebagai kisah sukses monumental dan fenomenal.

Apa Reaksi Anda?