Noblesse Oblige dan Virus Optimisme di Jember SAE 2021

Oleh: Aga Suratno

Lomba karya  jurnalistik wartawan  dan jurnalisme warga yang digelar Polres Jember dan LP2M Univeritas Jember digagas orang-orang dengan pikiran besar. Lomba digelar justru di tengah pandemi Covid 19.  Kebangkitan UMKM di Masa Pandemi Covid 19  diputuskan sebagai tema pertama lomba. 

Ekonomi boleh lesu, tetapi optimisme tidak boleh ikut tergerus. Keyakinan seperti itu kira-kira yang melatarbelakangi  penggagas lomba. Orang-orang dengan pikiran besar yang berada di balik penyelenggaraan lomba, ini juga kalau masih boleh menduga, beranggapan pesimisme hanya akan membuat keterpurukan makin dalam. Karena itu, optimisme harus dibangkitkan. Optimisme harus diencourage. 

Sejarah membuktikan optimisme bisa membangkitkan suatu bangsa dari keterpurukan. Tengok misalnya Presiden Amerika Serikat FD Roosevelt ketika menghadapi depresi ekonomi (great depression) pada 1930-an. Presiden Roosevelt memutuskan  yang pertama kali harus dilakukan adalah membangkitkan semangat dan optimisme rakyat Amerika sebelum hadir lebih dalam dengan kebijakan  program yang popular dengan sebutan “new deal”. Ada pula yang menyebutnya sebagai program  3 R ( Relief, Recovery, Reform). 

Sama Seperti  FD Roosevelt, orang dengan pikiran besar di balik penyelenggaraan lomba karya jurnalistik wartawan dan jurnalisme warga ini juga meyakini,  yang pertama kali harus dilakukan adalah membangkitkan optimisme. Situasinya memang beda. Dulu masyarakat dunia dihadapkan pada hanya satu tantangan, yakni krisis ekonomi. Sekarang krisis akibat pandemic Covid 19 menggerogoti hampir seluruh sektor kehidupan. Dua bidang yang diprioritaskan penanganannya adalah bidang kesehatan dan ekonomi. Kedua bidang itu berkelindan. Sebegitu rupa, sehingga kadang memaksa penentu kebijaksan menanganinya secara simultan. Sedalam dan seluas apapun spektrum krisis yang berlangsung saat ini kata kuncinya tetap saja optimisme. 

Salah satu wahana yang diyakini bisa membangkitkan optimisme adalah lomba karya jurnalistik wartawan dan jurnalisme warga, yang melalui lomba itu juga diyakini bakal bermunculan sosok inspiratif dan  penyintas. Kemunculan sosok inspiratif dan penyintas ini dipercayai bakal menjadi virus yang menularkan optimisme. Optimisme yang darinya bersemaian gagasan-gagasan kreatif untuk keluar dari keterpurukan dan keputusasaan. 

Berangkat dari kedalaman krisis gegara pandemi Covid 19, orang dengan pikiran besar yang berada di balik lomba karya jurnalistik wartawan dan jurnalisme warga 2021  memutuskan lomba berlangsung berkesinambungan. Dua bidang sasara utama, yakni kesehatan dan ekonomi, harus sama-sama mendapatkan porsi. Dipilihlah kemudian Kebangkitan UMKM Di Masa Pandemi sebagai tema pertama lomba. 

Memilih kebangkitan UMKM di tengah pandemi sebagai tema pertama lomba bukan tanpa tantangan. Tidak seperti krisis pada penggal pertama 1990-an, ketika Indonesia dan dunia dilanda krisis ekonomi.  Waktu itu UMKM teruji ketangguhannya. Sekarang situasinya berbeda. Pendemi Covid 19 memukul hampir semua sektor kehidupan sosial, ekonomi bahkan politik. Tetapi dua bidang yang paling terpukul adalah kesehatan dan ekonomi. Memilih bidang mana yang harus didahulukan penanganannya mirip seperti ketika seseorang dihadapkan pada buah simalakama.  Karena itu, orang-orang dengan pikiran besar di balik lomba karya jurnalistik wartawan dan jurnalisme warga 2021 memutuskan sekaligus berkomitmen, dengan segala konsekuensi yang menyertainya, lomba dilaksanakan berkesinambungan (sekuel). Sebegitu rupa, sehingga bidang kesehatan dan ekonomi sama-sama mendapatkan porsinya. 

Diluar dugaan, peserta lomba melampaui prakiraan panitia penyelenggara. Sekitar 130-an peserta meramaikan lomba ini. Banyaknya jumlah peserta seolah merupakan sinyal bahwa optimisme bisa diencourage. Tinggal menyediakan wahananya. Yang menyediakan wahana atau media adalah mereka yang karena posisi dan statusnya tergolong ke dalam nobllese oblige. Golongan yang dengan penuh kesadaran, karena status  dan posisinya, merasa di pundaknya terpikul tanggungjawab moral dan sosial. 

Dan, orang-orang besar dengan pikiran besar itu adalah Kapolres Jember AKBP Arif Rachman Arifin, SIK, MH; Rektor UNEJ Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng; Ketua LP2M UNEJ Prof. Achmad Subagio, dan Sekretaris LP2M UNEJ Ir. Khairul Anam, S.T, M.T, Ph.D.***

Apa Reaksi Anda?